Integrasi Konsep Kesehatan Perempuan Pada Kurikulum Akademi Kebidanan


Kematian ibu yang tinggi di Indonesia merupakan refleksi bahwa kepedulian kita kepada kesehatan perempuan amat rendah. Bukan saja kepada kesehatan, mungkin kepada semua aspek kehidupan perempuan. Ini  tercermin dari beberapa makalah yang menuduh bahwa secara sosial, ekonomi, dan politik di seluruh dunia terdapat diskrimasi kepada perempuan1. sebagai contoh kebutaan akibat katarak, di negara berkembang mereka yang mendapatkan pelayanan operasi kebanyakan pria dibandingkan dengan perempuan (WHO). Demikian juga pelayanan kesehatan lainnya dapat dilihat adanya perbedaan kesempatan mendapatkan akses dan ini membuktikan adanya perbedaan gender2. Tentu saja para pemimpin harus mempunyai perspektif atau lensa gender.

Dengan bantuan dari the Ford Foundation, YKPKmemulai pemberdayan dan pemahaman gender ini pada Akademi Kebidanan, yang potensial menghasilkan tenaga terlatih bagi pelayanan pada perempuan di Indonesia.

KONSEP KESEHATAN PEREMPUAN

Kesetaraan gender masih merupakan wacana di lingkungan kita. Ternyata bukan hanya urusan harapan hidup dan pelayanan masyarakat; perempuan nyata berbeda secara kodrati yaitu hamil dan melahirkan3. Hal ini memerlukan perhatian dan perlakuan khusus yang menjamin keamanan reproduksi. Nyatanya dengan angka kematian yang relatif tidak berubah selama 20 tahun, tidak menjadikan kita sadar. Belum lagi hasil reproduksi yaitu kematian bayi yang sangat tinggi, membuktikan kita kurang peduli terhadap perempuan. Tugas lain yang membebani perempuan ialah merawat anak, termasuk meneteki dimana memerlukan dukungan penuh (makanan, minum, rumah/tempat, energi, emosi, dsb). Membesarkan dan mendidik anak juga menjadi beban perempuan, ditambah lagi dengan tugas rumah tangga.

Kesehatan perempuan diancam juga oleh infeksi saluran reproduksi (baca HIV, HPV→Ca cervix), komplikasi hormonal/KB, kehamilan remaja, menopause, dan depresi.

Kekerasan dalam rumah tangga juga mengancam perempuan. Mungkin sekitar 30% perempuan pernah mengalami hal ini, sebaliknya menarik bahwa ada etnik yang relative kecil (misalnya jepang: 4%).

Pertanyaan berikut adalah siapa yang peduli akan kesehatan perempuan? Dan siapa yang bertanggung jawab? Dimana perempuan memperoleh pelayanan yang bermutu? Kita bisa mengerti bahwa para elit politik belum mempunyai untuk komitmen kesehatan perempuan.